Bandung — Civitas akademika Universitas Padjadjaran (Unpad) menyampaikan apresiasi kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) atas langkah dan kinerjanya dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya di tengah meningkatnya tantangan akibat berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Apresiasi tersebut disampaikan seiring dengan akan dihadapinya sejumlah momentum penting nasional, seperti perayaan Imlek, memasuki bulan suci Ramadhan, hingga Hari Raya Idul Fitri pada Februari dan Maret 2026. Unpad berharap Polri dapat terus menunjukkan kinerja yang optimal agar masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Barat, dapat menjalankan aktivitas dan ibadah dengan aman, nyaman, dan lancar.
Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. dr. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Sp.M(K)., M.Kes., Ph.D., menegaskan kepercayaan pihaknya bahwa Polri akan tetap konsisten menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan dan tekanan yang berkembang di tengah dinamika sosial masyarakat.
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, Rektor Unpad juga menyambut baik sinergi yang telah terjalin antara Unpad dan Polri. Ia menyampaikan bahwa dukungan Polri sangat dibutuhkan mengingat Unpad memiliki sekitar 40.000 mahasiswa serta lebih dari 5.000 dosen dan tenaga kependidikan. Dengan jumlah tersebut, Unpad dinilai sebagai miniatur masyarakat dengan tingkat kompleksitas permasalahan yang cukup tinggi.
“Dengan jumlah civitas akademika yang besar, Unpad memiliki dinamika dan tantangan tersendiri. Karena itu, dukungan Polri sangat kami butuhkan agar lingkungan kampus tetap kondusif dan aman,” jelasnya.
Rektor menjelaskan bahwa Unpad bersikap sangat kooperatif dan berharap kolaborasi dengan Polri dapat terus diperkuat. Kawasan Jatinangor yang bersifat terbuka, dengan konsentrasi kampus dan aktivitas akademik yang tinggi, dinilai memiliki potensi kerawanan, mulai dari peredaran narkoba, penyebaran paham radikalisme, hingga perkembangan lingkungan yang kurang terkontrol.
“Kami melihat ada potensi gangguan seperti peredaran narkoba, masuknya paham radikalisme, hingga perkembangan lingkungan yang kurang terkontrol. Hal ini tentu tidak bisa ditangani sendiri oleh kampus, tetapi perlu sinergi dengan Polri dan seluruh pihak terkait ,” ungkapnya.
Sebagai bentuk komitmen, Unpad telah berupaya maksimal menjalin kerja sama dengan Polri, pemerintah daerah, serta berbagai organisasi dan komunitas keagamaan guna menjaga dan melindungi mahasiswa. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pembentukan program social engineering sebagai upaya pencegahan dan penanganan gangguan kamtibmas di lingkungan kampus.
Unpad berharap sinergi yang terbangun ini dapat terus diperkuat demi menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan