Jakarta — Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) tengah mempersiapkan rangkaian kegiatan untuk memperingati satu abad keberadaannya di tanah air. Momentum 100 tahun ini menjadi salah satu tonggak sejarah penting bagi organisasi keagamaan tersebut, yang pertama kali hadir di Indonesia pada awal 1920-an melalui para mubalig dari India dan Pakistan.

Peringatan satu abad JAI rencananya akan mengusung tema besar “Seabad Pengabdian untuk Perdamaian dan Kemanusiaan”, yang menekankan kontribusi organisasi dalam bidang sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan dialog antarumat beragama.

Menurut keterangan internal panitia, rangkaian kegiatan akan meliputi:

1. Simposium Nasional dan Diskusi Publik
Mengangkat topik sejarah, kontribusi, dan dinamika organisasi dalam konteks keindonesiaan serta perkembangan kebebasan beragama.

2. Peluncuran Buku Seabad JAI
Buku ini akan memuat dokumentasi perjalanan JAI di Indonesia, termasuk rekam jejak sosial, tokoh-tokoh penting, serta arsip kontribusi kemanusiaan.

3. Kegiatan Sosial dan Layanan Masyarakat
Sejumlah program bakti sosial, donor darah, bantuan kesehatan, serta kegiatan kemanusiaan akan digelar di berbagai daerah.

4. Perayaan Puncak di Tingkat Nasional
Acara puncak akan mempertemukan anggota dari berbagai wilayah untuk mengikuti pidato, refleksi sejarah, dan doa bersama.

Pihak JAI menyampaikan bahwa peringatan 100 tahun ini tidak hanya ditujukan bagi internal anggota, tetapi juga sebagai sarana memperkuat hubungan dengan masyarakat luas. Dalam pernyataan resminya, JAI menegaskan komitmen mereka untuk terus menjalankan peran sebagai organisasi keagamaan yang menekankan nilai-nilai damai, toleransi, dan pelayanan kemanusiaan.

Sejumlah akademisi dan pengamat sosial diperkirakan akan hadir pada kegiatan simposium nasional untuk memberikan perspektif objektif mengenai kontribusi serta tantangan yang dihadapi organisasi ini dalam konteks sosial Indonesia.

Namun dalam rencana tersebut banyak mendapat penolakan dari beberapa ormas dikarenakan memang kelompok JAI merupakan kelompok yang beraliran sesat dalam hal ini tidak mengakui Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi terakhir. Begitu juga dengan beberapa tokoh dan pengasuh pondok pesantren di wilayah Kuningan berkeinginan untuk menolak kegiatan tersebut yang mana apabila dilaksanakan akan berbenturan dengan tokoh dan ormas Islam di wilayah Kuningan.